Menanggapi hal tersebut Direktur Eksekutif Komunikonten Institut Media Sosial dan Diplomasi, Hariqo Wibawa Satria mengatakan, usulan boikot kedai kopi Starbucks di Indonesia memang perlu dilakukan. Tujuannya bukan hanya karena ekonomi semata, namun untuk mempertegas identitas sebagai bangsa yang ber-Tuhan dan Pancasilais.
"Boikot Starbucks bukan untuk memiskinkan yang punya. Namun, untuk mempertegas identitas kita di mata internasional," kata Hariqo saat dihubungi Republika.co.id, Jumat (30/6).
Sehingga, lanjut dia, setiap orang yang minum kopi di Starbucks selalu memposting di akun media sosial konsumen. "Kita tidak sejalan dengan ideologi mereka. Namun, dari penjualan kita bisa meniru strategi mereka," ungkap Hariqo.
Karenanya dia mengimbau agar seruan boikot Starbucks itu juga dilakukan dengan memperlihatkan contoh nyata. Misalnya, Presiden, Menteri Pariwisata, Ketua Majelis Ulama Indonesia, dan tokoh-tokoh lain minum kopi di kedai kopi Aceh atau kopi lokal, lalu kegiatan ngopi tersebut di foto dan diupload ke media sosial. "Ini yang tidak terjadi. Kita harus melakukan audit para tokoh dan menteri, sudah sejauh mana dia mempromosikan produk-produk lokal ini. Penting sekali cara ini," tegas Hariqo.
Sebelumnya diberitakan, CEO Starbucks Howard Mark Schultz ketika pertemuan dengan para pemilik saham Starbucks Schultz secara tegas mempersilakan para pemegang saham yang tidak setuju dengan pernikahan sejenis untuk hengkang dari Starbucks.
Dia mengatakan pihaknya tetap menghargai keragaman dan kesetaraan dan berkomitmen sejalan dengan kebijakan manajemen Starbucks.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar