Sanksi cekal dialami Gatot sesaat sebelum terbang ke Washington D.C, Amerika Serikat, untuk menghadiri undangan Konferensi Internasional tentang Perlawanan terhadap Kelompok Ekstrimis, Sabtu pekan lalu. Informasi tersebut disampaikan Maskapai Emirates berdasarkan perintah otoritas imigrasi AS atau US Customs and Border Protection. Gatot baru boleh diizinkan terbang setelah pemerintah AS mencabut sanksi cekal dan berjanji menelusuri alasan yang melatari penjatuhan sanksi tersebut.
Melalui keterangan tertulis, Duta Besar AS untuk Indonesia, Joseph Donovan, menyampaikan permohonan maaf atas insiden pelarangan terhadap Gatot. Ia mengaku telah berkoordinasi dengan staf panglima untuk memfasilitasi kunjungan Jenderal Gatot beserta delegasi atas undangan Panglima Angkatan Bersenjata AS Jenderal Joseph Dunford itu. "Kami tetap berkomitmen menjalin kemitraan strategis dengan Indonesia," kata dia.
Ungkapan maaf juga disampaikan Menteri Pertahanan AS James Mattis saat bertemu Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. Permohonan maaf tersebut disampaikan Mattis di sela-sela pertemuan Menteri Pertahanan se-ASEAN di Filipina. Menurut Retno, pemerintah AS saat ini tengah merencanakan komunikasi antara Panglima Gatot dan Panglima Angkatan Bersenjata AS Jenderal Joseph Dunford.
Juru Bicara Markas Besar TNI, Brigadir Jenderal Wuryanto, menyampaikan ungkapan kecewa atas pelarangan tersebut. Menurut dia, kehadiran Gatot dalam acara tersebut merupakan perintah Presiden sebagai perwakilan pemerintah Indonesia. Ia berharap insiden Panglima TNI ditolak masuk AS tersebut tidak mengganggu hubungan antara kedua negara. "Kalau itu sebuah kesalahan, AS harus meminta maaf kepada Indonesia, bukan Gatot atau Retno," ucapnya.
ISTMAN | ARKHELAUS | RIKY FERDIANTO
TEMPO



Tidak ada komentar:
Posting Komentar